Baduy : Apa bedanya?

Sudah hampir setahun saya tidak mengumpulkan foto A Walking Jacket. A Walking Jacket adalah proyek pribadi untuk mengumpulkan foto jaket eksplorasi yang  mengajak saya untuk mendapatkan pelajaran hidup di berbagai tempat sekitaran bumi. Perjalanan terakhir membawa ke sebuah suku yang saya sangat ingin mengunjunginya. Baduy.

Perjalanan kereta ke Rangkas Bitung, disambung dengan mobil elf di jalan berlubang dan trekking berjam-jam dari Baduy Luar menuju ke Baduy Dalam bukanlah hal yang mudah. Akan tetapi itu sesuai dengan yang saya dapatkan disana. Pemandangan indah, orang-orang yang ramah, kebahagiaan, pencapaian tujuan, dan yang terpenting, pelajaran hidup.

Observasi singkat dan sesi tanya jawab dibawah temaram lampu membuka pikiran mengenai hal yang saya belum ketahui. Baduy Dalam adalah suku yang benar-benar menjaga apa yang para pendahulunya katakan. Kepercayaannya adalah Sunda Wiwitan dimana salah satu poinnya mereka mempercayai bahwa Nabi Adam berasal dari suku Baduy dan Nabi Muhammad adalah saudara jauh mereka. Mereka dilarang sekolah, karena itu bisa menjauhkan mereka dari adat yang sudah melekat. Ritual pun bermacam-macam, mulai dari pernikahan sampai migrasi penduduk dari Baduy Dalam ke Luar. Mereka pun tidak boleh menggunakan alat elektronik, satu-satunya yang saya lihat menyala di desa hanyalah senter, itupun dari para wisatawan bukan dari para penduduk asli.

Satu hal yang agak sarkasme yang terlintas saat itu, mengapa mereka seperti katak dalam tempurung? Yang melarang hal baru masuk dalam hidup mereka, dan merasa kalau yang mereka tahu adalah yang benar tanpa menghiraukan hal lain. Akan tetapi saat saya pikir-pikir lagi, apa bedanya dengan kita?

Kita hidup di doktrin dari lahir untuk mempercayai berbagai hal. Agama, politik, sampai mitos tidak boleh duduk di depan pintu karena akan menghalangi jodoh. Dan lucunya, apabila manusia sudah merasa tahu, kita juga akan susah menerima fakta baru karena kita sudah merasa apa yang dijalani adalah yang paling benar.

Namun, ada suatu momen di malam itu yang membuat saya merasa bahwa pada dasarnya semua manusia itu berbeda.

“Kang, menurut akang bahagia itu apa?” Tanya saya kepada salah seorang warga baduy dalam.

“Ya makan cukup, bisa bekerja, itu saja” jawabnya pelan.

Disaat orang di kota menggantungkan kebahagiaan mereka pada uang, like di instagram ataupun pendapat orang lain, masyarakat Baduy dapat bahagia dengan cara yang lebih sederhana. Sehingga pada saat itu apabila saya bertanya “apa bedanya kita dengan mereka?” Jawabannya hanya satu, persepsi tiap kepala terhadap hidupnya, layaknya kutipan dari seorang hebat puluhan tahun lalu.

 ‘Whether you think you can, or you think you can’t–you’re right.
Henry Ford.

2 thoughts on “Baduy : Apa bedanya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s