Festival Membaca Belu : Asa jua menyala di Atambua

Alhamdulillah, kerja keras dan doa bersalaman dengan semesta kali ini. Dongeng saya yang berjudul “Kura-Kura dan Buku-Buku Ajaib” dipilih Gramedia sebagai salah satu pemenang utama untuk menghadiri Festival Membaca di Belu, Nusa Tenggara Timur. Rasa penasaran akan daerah yang belum pernah saya injak plus semua akomodasi yang ditanggung oleh Gramedia bersama organisasi non-pemerintah Save The Children membuat saya tidak ragu untuk mengkonfirmasi keikutsertaan saya kesana dari 21-24 Juli kemarin.

Hari pertama saya benar-benar habis di jalan, matahari belum nampak namun taksi sudah hadir di depan rumah sejak jam 4 pagi. Dilanjutkan pesawat menuju Kupang dan bis menuju Atambua, saya sampai di hotel pukul 9 malam. Ya tentu saja banyak hal yang terjadi selama perjalanan, mulai dari berkenalan dengan teman-teman baru, kesia-siaan keluar pesawat saat transit di Denpasar, sampai mengobrol dengan bocah penjual kripik pisang di perjalanan bis yang mengidolakan Cristiano Ronaldo namun memakai kaus Barcelona. Lelah yang mengendap perlahan menguap saat lelap bertemu atap.

Esoknya hari dimulai dengan hal yang cukup asing di telinga saya. Briefing mengenai Child Safeguarding Policy oleh pihak Save The Children, yang didalamnya terdapat pengaturan untuk berinteraksi dengan anak sehingga mereka terhindar dari berbagai jenis kekerasan pada anak. Saya yang suka bermain dan ikut kegiatan bersama anak-anak tertegun, karena saya dulu ya tidak berpikir kalau perilaku saya dapat menimbulkan efek tidak menyenangkan nantinya. Tapi memang selalu ada konsekuensi dari tiap perbuatan, dan briefing ini berusaha meminimalisir hal negatif yang nantinya dapat terjadi saat kami bertemu anak-anak di Festival Membaca.

Festival Membaca adalah festival tahunan yang sudah dilakukan Save The Children sejak beberapa tahun lalu untuk meningkatkan minat literasi warga Nusa Tenggara Timur. Kali ini Festival itu diselenggarakan di Hotel Matahari, Atambua, Kabupaten Belu. Satu kata saat saya sampai, takjub. Berbagai lomba yang menurut saya mungkin hal biasa orang Jakarta lakukan saat SD, tapi disana semua melakukannya sebagai tantangan besar. Anak-anak yang berkeringat karena menyusun huruf, para pemuda yang bersemangat mengikuti lomba membaca ekspresif sampai guru-guru yang bekerja keras untuk menampilkan karya kreatif mereka.

 

5
Menyusun huruf!
6
Pemuda sarat ekspresi di lomba membaca ekspresif
7
Guru yang berkarya dengan prakarya

Saya seperti bocah yang riang berjalan kesana kemari memperhatikan tiap peserta lomba. Membaca dongeng menggunakan Bahasa Indonesia di depan umum bagi anak kelas 3 SD disana sepertinya sesulit membaca pidato Bahasa Inggris untuk anak-anak di Jakarta. Disatu sisi hati saya merasa miris dengan ketidakmerataannya pendidikan di negeri ini, tapi disaat bersamaan jiwa saya membuncah senang melihat semangat mereka mengejar ketertinggalan. Tidak dapat dipungkiri Nusa Tenggara Timur adalah provinsi yang kaya akan bahasa daerah, sehingga Bahasa Indonesia hadir sebagai bahasa pemersatu antar suku disana. Sungguh indah dan pengalaman yang tak terlupa melihat asa yang jua menyala di Atambua.

Cn8LOmpUkAAS9xW.jpg large
Foto yang kabur membuat tangan saya tidak bertelapak.

Hari harus terus berlanjut bersama matahari yang setia menemani dengan suhu diatas standar saya. Setelah salat Jumat di masjid Madrasah sana, saya dan rombongan melanjutkan perjalanan ke daerah Fulur, mengunjungi Reading Camp milik Save The Children. Berbeda dengan Atambua, Fulur adalah daerah yang jauh lebih terpencil dengan bukit berkelok sebagai medan sekitar. Tapi, saya melihat semangat belajar yang sama saat sampai disana. Anak-anak yang riang, sukarelawan yang tak ternilai jasanya dan warga yang suportif untuk mendukung anak mereka mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Duh, malu rasanya sebagai penghuni ibukota yang dapat akses pendidikan dan teknologi begitu mudah tapi masih malas juga membaca.

3
Kaki Mereka.
4
Senyum Mereka.

Capek juga ditampar dengan halus oleh semangat belajar mereka. Air terjun Mauhalek cocok jadi tempat perenungan dan penutup hari itu. Yah begitulah, sehari berputar disana cukup membuat saya sadar betapa beruntungnya saya lahir di tempat yang memudahkan saya membaca apa yang saya mau. Semoga saya masih bisa menulis kegiatan saya di hari berikutnya.

Jangan malas membaca!

P.S. :

  • Terimakasih untuk Laksita yang telah membantu saya memperbaiki diksi dongeng dengan pemahaman EYD yang lebih baik.
  • Terimakasih untuk Listi, Mas Bagus, dan Mbak Retno dari pihak Elex dan Gramedia yang mau memilih dongeng saya.
  • Terimakasih untuk belasan teman Save The Children yang mengajak dan berteman dengan saya disana. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s