DOTA 2 : 3 Pelajaran hidup di dalamnya*

Defense of the Ancient 2 yang berakronim sebagai DOTA 2, game online bergenre multiplayer online battle arena (MOBA) adalah permainan yang sudah mentransisi saya dari fans sepakbola menjadi penggemar electronic sports. Saya sempat mengalami masa kelam sebagai gamer garis sedikit keras yang bisa bermain di warnet selama 48 jam dengan jam tidur kurang dari seperdelapannya.  Kalau mengutip lagu dari lagu anyar dua publik figur kontroversial yaitu Young Lex dan Awkarin kurang lebih liriknya “Kalian skripsi aku penuh Dota”, itulah yang terjadi di dalam masa tingkat akhir saya. Namun Tuhan yang Maha Baik menaruh saya di lab dimana teman-teman, senior dan dosen yang sangat peduli dengan skripsi saya sehingga saya bisa tetap lulus di garis tengah distribusi normal.

Hubungan saya dengan DOTA 2 sudah jauh lebih sehat sekarang, pergulatan batin main-menyesal-berhenti-hapus akun- buat akun – main lagi sudah lama hilang. Dulu, saya sempat membenci diri saya sendiri karena tidak bisa lepas dari adiksi ini. Mencaci dan menghina diri sudah menjadi daily basis saat saya malah mementingkan DOTA 2 dibanding hal yang lebih penting dari itu. Saya yakin ini bukan terjadi di hidup saya saja, jutaan manusia lain mempunyai adiksinya masing-masing yang membuat mereka terjebak di endless abyss. Entah itu adiksi terhadap games, minuman keras, narkoba, seblak dan hal lainnya.

Namun terlepas dari efek negatif yang ditimbulkan (seperti berantem dengan pasangan saat memilih +25 MMR dibanding kencan 25 bulan jadian), DOTA 2 banyak memberikan pelajaran hidup yang implisit yang berguna bagi pemain-pemain yang mau mengambil hikmah dan syafaat. Berikut kalau kamu belum tahu intisari hidup yang bisa kami hisap dari permainan penuh intrik dan kata “bobo dan put**g ina mo” ini.

1.Berpikir jernih ditengah konflik

hqdefault

Bayangkan kondisi ini, baru 15 menit permainan berjalan, dua tower terdepan sudah hancur dan carrymu sudah mati 5 kali ditangan Timbersaw offlane. Sedang kamu yang berada di sisi lain lane sebagai offlaner bermain sangat baik karena sudah mendapat Aghanim untuk Miranamu. Support yang terus mengeluh betapa buruknya game menambah rasa di hatimu untuk abandon game ini dan masuk low priority. Tapi apa kamu mau menyerah dengan keadaan? Atau ikut support mu mencaci dengan bahasa filipina yang kamu tidak mengerti? Percaya lah 90% kamu akan kalah dan menikmati -25 MMR plus mood mu yang memburuk untuk game selanjutnya.

Namun, apabila kamu sedang dalam kondisi sebijak Mario Teguh di Golden Ways (bukan di kehidupan aslinya) untuk menjadi anomali untuk menyemangati team, maka kondisi mungkin masih bisa berbalik. Kamu tahu kalau comeback mechanism di game ini sangatlah baik (terbukti dari banyak TI matches yang dimenangkan oleh tim yang ulet berusaha comeback), kamu berusaha perlahan meningkatkan semangat team. Beli ward yang harusnya dilakukan support tapi malah ia ngambek, atau roaming dengan smoke yang kamu beli untuk ganking dengan satu support lainnya yang masih berpikir waras. Perlahan tapi pasti timmu akan melihat secercah harapan untuk menang dan akhirnya mereka mau bekerja sama untuk bahu membahu membunuh Roshan kemudian langsung push tier 4.* Dan akhirnya kamu menang.

Pelajaran apa yang bisa diaplikasikan dalam hidup? Tentu saja menjadi proaktif, tidak ikut-ikutan menyalahkan keadaan namun berusaha memberikan yang terbaik sehingga bisa membalikkan keadaan buruk menjadi baik.

Kenapa ada tanda bintang di 2 paragraf sebelumnya(*)? Karena sh!t happens, kalau teammates kamu bebalnya bukan main, kondisi ideal itu tak akan terjadi dan mungkin tetap kalah. Tapi whatever, kamu sudah bermain dengan mental pantang menyerah dan itu melatihmu berpikir dengan jernih untuk game selanjutnya.

2. Tidak ada hal yang sia-sia saat kamu berdisiplin

dcbodyphoto

Bukan rahasia kalau sangat banyak pemain DOTA 2 sudah bermain ribuan jam namun bertahan sebagai casual gamer, tidak mencoba berkompetisi dan masuk ke competitive scene. Semua memang punya alasan dan prioritasnya sendiri. Namun terdapat segelintir pemain yang dikategorikan pro memang karena mereka mau berdisiplin. Melebarkan hero pool, bermain di berbagai role, sampai keluar masuk tim demi mendapat performa terbaik.

Bila kita mundur saat orang tua kita masih remaja, mungkin menjadi gamer pro sama sekali bukan pilihan cita-cita. Mereka akan tertawa karena kita berkata mau serius menekuni tetris. Namun kata pepatah “Tak ada yang tetap selain perubahan itu sendiri”, sehingga apapun yang menurut orang mustahil pada suatu zaman belum tentu sama di zaman yang lain.

Kembali lagi pada disiplin, DOTA 2 mengajarkan bahwa yang menurut kita hanyalah sebuah permainan pun dapat diseriusi untuk menjadi lahan pencarian nafkah untuk calon teman hidup di masa depan. Prize pool kompetisi terbesar tahunan game ini mencapai lebih dari 20 juta dollar Amerika (bukan rupiah apalagi dollar Zimbabwe), dimana sudah lebih cukup untuk membeli kontrakan satu cluster untuk modal melamar kembang desa. Namun untuk menuju kesana tidaklah mudah, salah satu pemain pro, Mushi pernah membagikan jadwal rutin harian ia berlatih DOTA 2 dan itu sama sekali tidak fun menurutnya karena ia harus berlatih fokus dan bukan bermain-main layaknya 4k scrub macam saya.

Intinya, tahu prioritas dan berdisiplin di bidang apapun dapat membantu kamu memperoleh pekerjaan yang kamu impi-impikan walau hanya dengan menggerakkan cursor dan memainkan keyboard.

3. Semua momen penting, jadi nikmatilah

asd

Bermain DOTA tidak melulu soal menikmati kemenangan. Pemain pro yang termasyhur namun sedikit overrated (Liquid.Miracle) sekarang pun win ratenya hanya 59.27%. Ia mendaki sebagai pemain puncak klasemen MMR dengan perbandingan 6 kali menang 4 kali kalah dalam 10 pertandingan. Jadi sebenarnya orang yang sukses bukan lah yang mempunyai kesuksesan beruntun, namun yang terus menikmati momen dan belajar darinya mau kalah atau menang.

Akan tetapi, karena komunitas DOTA tidak selalu dapat berpikir jernih (termasuk saya) maka banyak yang tidak dapat menerima kekalahan, apalagi kalau kami merasa hanya satu orang di tim yang menjadi penyebab kekalahan. Oleh karena itu akan dapat pelajaran satu lagi dari game ini, yaitu belajar ikhlas saat beban tak terduga datang selama game berlangsung.

Ya kurang lebih seperti itu pelajaran yang saya rasa dapat saya petik (saat berpikir jernih) ketika bermain DOTA. Walau hanya 3 poin yang saya markai, namun sebenernya DOTA jauh lebih dari itu. Seperti semua hal yang ada di dunia, DOTA mempunyai sisi BAD dan GOOD tergantung bagaimana kita saja mau nonton video asli atau parodinya.

Cheers!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s