Puisi : Para Pembanding

Teman, bergeraklah walau terlambat, karena semua manusia terhebat, tidak lahir dengan cepat. Banyak yang terhambat, atau bahkan sampai tua tersumbat. Namun mereka tidak hilang semangat, atau pun membandingkan hidup mereka dengan rekan sejawat.

Semua orang punya langkahnya masing-masing, tidak perlu kau cemas melihat yang lain melesat cepat seperti gasing, padahal hidup mereka pun aslinya juga pusing. Semakin membanding semakin terasing, lebih baik kau urusi padimu yang belum menguning.

Teman, kau tahu Tuhan menghidupkanmu dengan sebuah rencana jadi berhentilah kau melihat hidup sebagai bencana. Tugasmu adalah berkelana bukannya merana, buat dunia terpesona dan menjadikan gelap perlahan sirna.

Aku tahu kamu kadang jatuh, dengan Tuhan semakin jauh ataupun dengan fana kamu terlalu patuh. Namun aku bisa yakin miliaran orang pernah begitu, jadi jangan lah merasa hanya kau satu, sampai ingin mengutuk diri menjadi batu atau berpikir menjadi hantu.

Teman, aku kamu dan lainnya sama. Kadang lelah untuk terus hidup seragam dan berirama. Ah aku juga sudah capek menulis dengan rima. Intinya berbahagia, bersabarlah dan berhenti membandingkan hidupmu dengan hidup lainnya. Karena pada dasarnya, satu-satunya yang sama dari diri kita adalah tempat kita kembali setelah hilang jiwa dari dunia.

Kastil Baru, Astana Anyar, Newcastle atau apapun yang kau suka untuk memanggilnya.
Rehat saat waktu yang tidak tepat.
14 Oktober 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s