Saya : Muslim yang manja

Sudah lama tak menulis.

Saya bermasalah. Saya mempunyai adiksi. Saya kesulitan dalam berkuliah. Saya masih mengulangi hal buruk yang sama. Saya mengakui hal itu. Akan tetapi tidak sebanding saat jauh dari agama. Kehampaan absolut terasa. Selalu bermasalah saat meninggalkan salat. Selalu.

Tinggal di luar Indonesia, di luar Jakarta/Bandung tepatnya, telah mengambil kenikmatan yang saya take it for granted. Dibilang nikmat mungkin juga bukan, karena saya jarang bersyukur karenanya. Musholla dan masjid yang banyaknya menyaingi dengan jumlah Rukun Tetangga, suara adzan yang bersahut-sahutan, teman dekat yang mengingatkan dan nikmat fasilitas Islam yang saya dapatkan dengan mudah.

Empat bulan di Newcastle, perbedaan terasa. Manusia, cuaca, dan budaya tak sama. Saat di Indonesia ada yang suka menilai orang lain sebagai Islam KTP, disini teman saya jelas berkata kalau ia hanya beragama di kartu identitas. Disini cuaca pun dinginnya membuat sering mengeluh, tak beda saat saya mengeluh tentang panasnya Jakarta. Dan budaya, jelas, semua bebas, kafe khusus LGBT pun tertanda di peta wisata.

Berteman dengan orang yang beragam mulai dari muslim yang tak bermasalah dengan makan babi sampai dengan kristiani yang lebih mempercayai hukum fisika dibanding kuasa Tuhannya membuat saya sempat ragu tentang agama saya sendiri. Saya pun sudah berkali-kali menyampaikan keresahan saya kepada istri tentang bagaimana nasib kaum yang dijanjikan masuk neraka di kitab kami, bagaimana kalau itu adalah kami ataupun teman-teman kami. Ya begitulah, terlalu banyak perdebatan dalam diri yang membuat saya malah semakin tak beraturan.

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28)

Saya pun kembali kepada penggalan ayat tersebut. Dan selalu berhasil. Selalu. Hidup baik kembali saat saya teratur dan berusaha khusyu saat beribadah. Kebiasaan baik lainnya mengikuti perlahan. Di Indonesia, saya lebih gampang kembali ke ayat tersebut karena semua nikmat yang saya sudah sebutkan sebelumnya. Di Indonesia pula, saya adalah muslim manja yang dengan mudah mencari suapan penguatan ketaqwaan. Disini saya menjadi minoritas yang mencari tempat beribadah pun sudah mengambil porsi energi sendiri. Saya mungkin masih lebih beruntung dibandingkan teman saya yang tidak mempunyai tempat ibadah sama sekali di tempat ia studi, karena kampus saya masih menyediakan ruangan yang di sulap menjadi masjid. Namun letaknya yang cukup jauh dari perpustakaan dan gedung saya berkuliah, membuat saya lebih sering salat di bawah tangga perpustakaan. Saya pun terpikir menulis tulisan ini setelah saya salat berjamaah dengan istri saya di tempat tersebut, bagaimana berbedanya tingkat willpower yang dibutuhkan untuk menjadi muslim disini dibanding di Indonesia.

Rembetan pikiran pun tertuang setelahnya. Betapa beruntungnya muslim Indonesia, beribadah tanpa harus memikirkan apakah ada orang yang akan lewat tangga atau tidak. Betapa sedihnya nasib orang-orang yang rumah ibadahnya dibakar ataupun digagalkan rencana pembangunannya. Betapa banyak nikmat yang didustakan oleh manusia yang sebenarnya terfasilitasi nikmat beragamanya namun lebih fokus mengurusi agama lainnya. Ya entah lah maksud tulisan ini apa, tapi saya mau meminta maaf kepada diri sendiri karena telah menjadi muslim yang manja selama di Indonesia.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s