London : enam belas jam

Berangkat jam sebelas malam dengan bis dari utara Inggris untuk sampai ke daerah selatan negara yang sama nyatanya cukup melelahkan. Efek lelah akibat tidur yang lama tapi tidak berkualitas menjadi masalah utama saat saya dan istri menginjakkan kaki di London. Sepuluh bulan di Inggris, ini baru kali kedua saya ke ibukota. Tujuan utama saya satu, menikmati konser beatboxer favorit saya, Tom Thum bersama manusia yang tak kalah bertalentanya, Jamie MacDowell.

Namun hari itu, jauh lebih berbahagia dari yang saya harapkan.

Datang pagi dengan urgensi untuk buang air kecil yang sangat, saya baru sadar tanda pertama masuk ke kota besar adalah besarnya uang yang harus dikeluarkan untuk buang hajat. Kalau di Newcastle mungkin hanya membayar sekitar 20p dan di Bandung 1000 rupiah, London mematok harga minimal 30p sampai 50p (+- 8500 rupiah), cukup untuk membeli basreng dan cilok sampai mual di SD dekat rumah.

Dan entah kenapa, kebahagiaan pertama saya datang saat saya mempunyai 3 pecahan 50p dan ada wanita muda yang sedari tadi kebingungan mencari receh untuk masuk toilet, saya dan istri setuju untuk memberikan satu koin sisa kami untuknya. Dia berkali-kali berkata “Oh my god”, “Thank you”, dan ucapan baik lainnya yang membuat mood pagi saya membaik walaupun leher pegal selama di bis.

Kebahagiaan kedua datang di saat saya melakukan reuni dengan mesin permainan favorit saya di tiap game center di Indonesia, Pump It Up. Dance virtual game yang saya tak pernah temukan di manapun selama saya studi di sini, akhirnya saya bisa bermain dengan puas di pojok kota London yang bernama Las Vegas Soho. Mesin ini sendiri menjadi favorit saya bukan tanpa alasan, selain menjadi tempat endorphin dan keringat saya bertaburan, permainan ini adalah memori tersering saya saat berpacaran dengan istri saya dulu. Ya, keberangkatan saya dan istri ke London tak ubahnya seperti kencan awal kami saat dulu.

DSC_1945

Pump it up prime 2!

Rasa syukur saya bertambah saat saya berkunjung ke Nusa Dua, restoran Indonesia yang menurut saya sangat (sangat sangat) enak, terkhusus untukmu, Tong Seng kambing. Dengan pelayanan yang sangat baik dan pemilik yang ramah, saya tidak habis pikir kenapa restoran ini tidak pernah dikunjungi oleh KBRI sana. Terlepas anda orang Indonesia atau bukan, makanan ini akan saya rekomendasikan kepada siapapun yang ingin berkunjung ke London.

asdf

Makanan di Nusa Dua (maaf ini foto dari website, saya jarang foto makanan)

Saya tidak dapat mengatakan selama 22 jam disana saya selalu berbahagia, mengingat kaki saya pegal luar biasa saat berjalan-jalan sambil menunggu konser jam delapan malam. Saya dan istri berjalan ke daerah yang belum saya kunjungi di kunjungan pertama, seperti Camden Market, Trafalgar Square, Wembley Stadium, dan National Gallery. Tidak semuanya berkesan, namun saya bersyukur dapat ke tempat-tempat tersebut karena menawarkan atmosfir yang berbeda-beda. Camden Market yang tak ubahnya Pasar Baru di Bandung sampai National Gallery yang menunjukkan betapa hebatnya para pelukis memvisualisasikan sejarah, agama dan legenda mereka.

20597888_10214479972659505_1993147870_o

Visualisasi Jan Gossaert (1520) tentang Adam dan Hawa di National Gallery

Tak terasa sore menyapa dan sebentar lagi waktunya tiba, saya dan istri memutuskan menghabiskan waktu di sekitar London Eye karena konsernya pun tak jauh dari sana. Antrian mengular untuk melihat kota dari atas bianglala milik Coca Cola itu menyambut saya saat sampai disana. Untungnya kami tak berniat untuk naik wahana tersebut, mungkin akan menghabiskan 2 jam sendiri hanya untuk mendapat giliran. Saya dan istri hanya bermalas-malasan di rumput sambil memberi makan burung dan melihat multi rasial, agama, bangsa saling bercengkrama dan memadu kasih.

DSC_1956

London Eye dan helikopter yang melintas

Sekitar jam tujuh malam, yang sebenarnya sama sekali tidak malam (karena matahari terbenam sekitar jam setengah sepuluh), saya masuk ke arena konser yang ternyata venuenya hanya untuk dibawah seratus lima puluh orang. Di bar dekat venue, saya terkejut karena saya melihat beatboxer favorit saya, Ball Zee. Saya yang biasanya tak berani mengajak orang foto, tiba-tiba nekat mendekatinya dan mengajaknya berbicara. Ternyata dia sangat ramah, bertanya beberapa hal dan menggurau nama saya adalah Alem, tak lama dia pun tak sungkan menerima ajakan foto saya.

DSC_1964.JPG

Ball Zee!

Saya pun masuk venue dengan senyum seperti anak yang baru bertemu superhero idolanya. Saat menunggu konser, saya sempat berkata kepada istri saya, “Coba ada Reeps One (Legenda beatbox dari Inggris lainnya)”. Konser pun dimulai, dan akhirnya saya melihat Tom Thum dan Jamie MacDowell pertama kalinya. Satu lagu, dua lagu dimainkan dengan sangat mengagumkan. Senyum pun merekah, sampai di lagu ketiga, tiba-tiba Tom Thum memanggil teman lainnya, it is Ball Zee and REEPS ONE!

dsc_1970.jpg

Kiri ke Kanan : Tom Thum, Ball Zee dan Reeps One

Saya sentak berkata dalam hati, hari ini sudah sangat sempurna. Yang benar saja, tiga dari lima favorit saya sepanjang hayat (selain mereka adalah Gene Shinozaki dan Beardyman) berada di satu panggung. Ini adalah hal yang sangat langka, sebab Tom Thum sudah sangat jarang berada di competitive scene beatbox. Ia sudah jarang sekali berkolaborasi dengan beatboxer yang lain atau menjadi judge di beatbox battle. Sisa konser pun benar-benar tak kalah indahnya, tiap lagu, tawa dan lirik yang dalam membuat konser ini adalah konser terhebat dan terintim yang pernah saya datangi (saya jarang datang konser juga sih sebenarnya, hehe).

Namun Allah maha baik. I can’t ask more for that day.

Selesai konser, tak ubahnya Ball Zee, Reeps One pun ternyata mingle dengan orang-orang lainnya. Kesempatan ini tak mau sia-siakan untuk mengobrol sebentar dengannya dan juga mengabadikan momen. 😀

DSC_1978

Reeps One!

Senja di Southbank pun saya akhiri dengan membeli EP milik Tom Thum dan Jamie MacDowell. Saya bertanya ke Laksita, “Kira-kira Tom Thum mau tidak ya jamming dengannya?”. Tom Thum menurut saya adalah beatboxer yang mempunyai vocal scratch terbagus di dunia (ya dunia), mengiringinya dengan beat saya yang pas-pasan saja sudah menjadi mimpi yang jadi kenyataan.

If you want something, ask.

Saya berkata yang saya mau kepada Tom Thum saat meminta tanda tangan, dan dengan senang hati ia melakukannya. Ya, dia mau collab dengan beatboxer tanpa nama seperti saya.

DSC_1981.JPG

Video dapat dilihat di akun facebook dan instagram saya (@huudalam), ea promosi.

Sudah, Allah sudah sangat baik kepada saya. Walau hanya berada di London dari jam 8 pagi sampai 12 malam, it was one of my best day ever!

Terimakasih sudah membaca!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s